Rabu, (11/5/2016) Badan Semi Otonom Pramuka Guguslatih
Ekonomi Unnes 2016 melaksanakan peringatan Isra dan Mi’roj Nabi Muhammad SAW.
Acara dibuka pada pukul 19.00 WIB, diawali dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an
dan dilanjutkan sambutan Koordinator Pramuka GL7 yaitu Kak Chotibul Umam. Pada
acara inti diawali dengan melantunkan sholawat atas Nabi Muhammad SAW dan
kemudian penyampaian Maudhatul Khasanah Isra dan Mi’roj oleh Kak Anita Wahyu
Rustianti dari Dewan Ambalan GL7. Acara yang belangsung di PKM Joglo Fakultas
Ekonomi Unnes ini berjalan dengan hikmat dan suasana hangat serta antusias dari
anggota pramuka yang terlihat saat proses diskusi atau tanya jawab.
KISAH PERJALANAN
ISRA DAN MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW
Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah
salah satu peristiwa yang agung dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam. Isra Mi’raj adalah dua bagian dari perjalanan yang
dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini
merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa
ini Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu
sehari semalam. Dalam Isra, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam
“diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu
dalam Mi’raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha
yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari
Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu.
Sejarah
atau Kisah Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW dimulai dengn
Rasulullah mengendarai buraq bersama Jibril. Jibril berkata, “turunlah dan
kerjakan shalat”. Rasulullahpun turun. Jibril berkata, “dimanakah engkau
sekarang?” “tidak tahu”, kata Rasul. “Engkau berada di Madinah, disanalah
engkau akan berhijrah”, kata Jibril. Perjalanan dilanjutkan ke Syajar Musa
(Masyan) tempat penghentian Nabi Musa ketika lari dari Mesir, kemudian kembali
ke Tunisia tempat Nabi Musa menerima wahyu, lalu ke Baitullhmi (Betlehem)
tempat kelahiran Nabi Isa as, dan diteruskan ke Masjidil Aqsha di Yerussalem
sebagai kiblat nabi-nabi terdahulu. Jibril menurunkan Rasulullah dan
menambatkan kendaraannya. Setelah rasul memasuki masjid ternyata telah menunggu
Para nabi dan rasul. Rasul bertanya “Siapakah mereka?” “Saudaramu para Nabi dan
Rasul”. Kemudian Jibril membimbing Rasul kesebuah batu besar, tiba-tiba Rasul
melihat tangga yang sangat indah, pangkalnya di Maqdis dan ujungnya
menyentuh langit. Kemudian Rasulullah bersama Jibril naik tangga itu menuju
kelangit tujuh dan ke Sidratul Muntaha. “Dan sesungguhnya nabi Muhammad telah
melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul
Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril)
ketika Sidratull Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya
(Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula
melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan)
Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm : 13 – 18).
Kemudian Rasulullah melanjutkan
perjalanan menghadap Allah tanpa ditemani Jibril Rasulullah dan membaca yang
artinya “Segala penghormatan adalah milik Allah, segala Rahmat dan kebaikan“.
Allah berfirman yang artinya, “Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, Rahmat
dan berkahnya“. Rasul membaca lagi yang artinya: “Keselamatan semoga bagi kami
dan hamba-hamba Allah yang sholeh. Rasulullah dan ummatnya menerima perintah
ibadah shalat”. Berfirman Allah SWT, “Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai
kekasih sebagaimana Aku telah mengambil Ibrahim sebagai kesayangan dan Akupun
memberi firman kepadamu seperti firman kepada Musa Akupun menjadikan umatmu
sebagai umat yang terbaik yang pernah dikeluarkan pada manusia, dan Akupun
menjadikan mereka sebagai umat wasath (adil dan pilihan), Maka ambillah apa
yang aku berikan kepadamu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang
bersyukur“. “Kembalilah kepada umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku”. Kemudian
Rasul turun ke Sidratul Muntaha. Jibril berkata, “Allah telah memberikan
kehormatan kepadamu dengan penghormatan yang tidak pernah diberikan kepada
seorangpun dari makhluk-Nya baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang
diutus. Dan Dia telah membuatmu sampai suatu kedudukan yang tak seorangpun dari
penghuni langit maupun penghuni bumi dapat mencapainya. Berbahagialah engkau
dengan penghormatan yang diberikan Allah kepadamu berupa kedudukan tinggi dan
kemuliaan yang tiada bandingnya. Ambillah kedudukan tersebut dengan bersyukur
kepadanya karena Allah Tuhan pemberi nikmat yang menyukai orang-orang yang
bersyukur”. Kemudian Jibril berkata, “Berangkatlah ke surga agar aku
perlihatkan kepadamu apa yang menjadi milikmu disana sehingga engkau lebih
zuhud disamping zuhudmu yang telah ada, dan sampailah disurga dengan Allah SWT.
Tidak ada sebuah tempat pun aku biarkan terlewatkan”. Rasul melihat gedung-gedung
dari intan mutiara dan sejenisnya, Rasul juga melihat pohon-pohon dari emas.
Rasul melihat disurga apa yang mata belum pernah melihat, telingan belum pernah
mendengar dan tidak terlintas dihati manusia semuanya masih kosong dan
disediakan hanya pemiliknya dari kekasih Allah ini yang dapat melihatnya. Semua
itu membuat Rasul kagum untuk seperti inilah mestinya manusia beramal. Kemudian
Rasul diperlihatkan neraka sehingga rasul dapat melihat belenggu-belenggu dan
rantai-rantainya, selanjutnya Rasulullah turun ke bumi dan kembali ke masjidil
haram menjelang subuh.
Secara umum, kisah yang menakjubkan
ini disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur`an dalam firman-Nya:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ
لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي
بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِير
Artinya, “Maha Suci
Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil
Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami
perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS.
Al-Isra` : 1).
Hikmah
Isra Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW adalah Perintah
sholat dalam perjalanan isra dan mi’raj Nabi Muhammad SAW, kemudian menjadi
ibadah wajib bagi setiap umat Islam dan memiliki keistimewaan tersendiri
dibandingkan ibadah-ibadah wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks
spiritual-imaniah maupun perspektif rasional-ilmiah, Isra’ Mi’raj merupakan kajian
yang tak kunjung kering inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat beragama
(Islam).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar